Hizbullah Syihab, Pejuang Terakhir!
![]() |
| Gambar Google |
"Kau?!" Wajah bulat Laki-laki ini berhadapan dengan wajahku.
"Sedang apa kau di sini? Ini bukan ruang kerjamu! Pergi sana, aku tidak mau berpapasan denganmu!" Bentakku kasar, nafasku tidak teratur. Berulang kali aku menarik nafas dan membuangnya perlahan. Jantungku masih berdegup kencang. Emosiku tiba-tiba saja melonjak naik, sebagai akibatnya jantungku berdegup kencang.
"Rina, ada yang ingin aku bincang denganmu sebentar." Suara itu membelah setelah terjadi kebisuan beberapa menit.
Aku membalikkan badan, berhadapan dengannya "Apa?!" Sorot mataku merobek kornea matanya yang kecoklatan, aku berdiri dihadapannya dengan pongah.
"Bisakah kamu menurunkan oktaf suaramu, aku hanya ingin tanya pendapat bukan berdebat"
"Bodo amat! Suka hati, bicara saja sekarang cepat!"
Terdengar dia menghela nafasnya, "Mungkin lain kali aku akan mengajakmu untuk bicara." Reflek, dia memalingkan wajahnya dan pergi meninggalkanku yang berdiri mematung.
**
"Hizbullah, kamu darimana saja? Pak Ali mencarimu tadi. Cepat temui dia, siapa tahu ada tugas atau apalah namanya."
Hizbullah hanya melempar senyum. Lalu pergi begitu saja tanpa komentar.
Pintu ruang direktur diketuk, sebuah suara jumawa bersuara dari dalam.
"Masuk" Perintahnya tegas.
Pintu terkuak, sebuah wajah menyembul dari balik pintu.
"Ah, iya.. Hizbullah. Mari, silakan masuk!" Hizbullah datang merapat, lalu berdiri di ujung meja kerja Bapak Pimpinan.
"Kenapa masih berdiri, ayo silakan duduk. Saya ingin membahas sesuatu dengan kamu."
Hizbullah duduk dengan anggukan hormat, lalu duduk dengan tertib.
"Hizbullah, saya tahu kamu wartawan baru di sini dan mungkin pengalamanmu belum mumpuni. Tapi, saya tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Saya akan memberimu tugas sehingga kamu paham dan bisa belajar bagaimana cara kerja media massa dalam mencari berita," Hizbullah mendengarkan dengan seksama.
Bapak Pimpinan menatap wajah bulat Hizbullah, lalu menarik nafas sebentar.
"Hizbullah, saya minta kamu coba gali lebih dalam peristiwa yang terjadi di..." Bapak Pimpinan terbatuk sebentar, meneguk air mineralnya dan kemudian kembali berbicara. Diakhir kata Bapak Pimpinan membuat seorang Hizbullah terkejut, "Bapak serius meminta saya untuk meliput di sana?" Binar matanya bulat dan terkejut.
Bapak mengangguk pasti, "Iya, saya serius. Lakukanlah!"
Bersambung....

Komentar
Posting Komentar