FLP Mengguncang Ramadhan
FLP Mengguncang Ramadhan
Inilah
bulan dimana semua simpang perjalanan dipenuhi oleh tawaran jajanan yang lezat
bin laziz yang menggiurkan, meski penduduknya sedang menjalankan puasa
ramadhan. Anda tinggal pilih mau berbuka pakai jajanan apa, semua ada! Luar
biasa, bukan?
Well,
tak heran kalau dalam bulan puasa ini banyak daripada warga bumi mencoba
untung-untungan dengan menjual semua jajanan yang nikmat untuk menu buka puasa.
Rasa penasaran dengan citarasa kue yang dihidangkan membuat sebagian konsumen
memborong semua makanan yang dijual. Meski pada akhirnya tidak semua dimakan.
Rasa
haus dan lapar sepanjang hari rasanya tergantikan dengan pelbagai sajian
hidangan lezat bin menggiurkan yang tersaji di atas meja makan. Saat bulan
puasa tiba, baik penjual dan pembeli sama-sama memiliki keuntungan. Meski tentu
ada yang tidak seimbang dengan yang diharapkan oleh kedua pihak.
Lucunya
lagi, saat jarum jam sudah menuju pukul 18.30 wib dipastikan semua anggota
keluarga kumpul dan duduk melingkar di meja makan. Semua siap ambil posisi aman
untuk menjangkau seluruh makanan di atas meja. Luar biasa bukan?
Bulan
puasa, bulan seribu berkah. Masih terbayang semangatnya kaum Ayah dan kaum ibu untuk meramaikan shalat Isya ditambah shalat
tarawih dan witir. Para pemuda juga tidak mau ketinggalan, mereka juga
beramai-ramai memenuhi shaf. Semua jadi ramai bin meriah.
Ada tradisi yang lahir turun temurun dan telah menjadi
tradisi orang Aceh, yaitu Mak Meugang, sudah
jadi tradisi orang Aceh sebelum memasuki Ramadhan. Bahkan keluarga yang hidup
dalam ekonomi menengah ke bawah tetap berusaha untuk dapat memenuhi kebutuhan
untuk tradisi Mak Meugang ini.
Seiring berjalannya waktu, ada yang masih konsisten untuk
menjalankan ibadah puasa dan shalat tarawih hingga akhir ramadhan. Namun, ada
juga yang mulai dengan akhir ramadhan dengan ketidakkonsisten. Ketidakkonsisten
ini di tambah dengan ibu-ibu rumah tangga yang sibuk membuat kue untuk hari
fitri dan sudah dipastikan Ibu-ibu rumah tangga bolong shalat tarawih malam
itu. Bapak-bapak juga kembali membuka siaran televisi dan sudah dipastikan bapak-bapak
juga bolong shalat tarawihnya.
Anak-anak mulai bermain membakar petasan dan bermain
kembang api. Semua jadi hiruk pikuk pada kesenangan masing-masing. Dan ternyata
semangat ramadhan hanya terasa di awal ramadhan dan pertengahan ramadhan saja. Selebihnya,
kembali kepada semangat sedia kala.
Sehingga setelah keluar
dari bulan ramadhan, semua warga bumi kembali sibuk dan malas untuk menunaikan
kewajiban seperti kewajiban dalam bulan puasa.
Wallahu’alam
Ibu yang membuat kue dan disibukkan dengan persiapan jelang idul fitri, itu juga ibadah kok.
BalasHapusAyo kita isi ramadhan dengan berlatih untuk bisa kuat selepas ramadhan nanti. Semangat!
BalasHapus