Aku Bukan Sampah Masyarakat
"Braakkk!!!" Meja belajar dihadapanku kutendang bebas. aku menggerutu pedas, ku layangkan umpatan paling tajam. ku kepal tanganku erat-erat, aku mulai meninju dinding. tapi akhirnya aku meringis kesakitan. aku hampir menangis mengingat seluruh kejadian paling sadis dalam hidupku. aku hidup dalam peristiwa yang penuh pengkhianatan, kekejian, dan kekerasan. rasanya aku sudah tidak sanggup lagi untuk menarik nafas hanya untuk sekedar memenuhi rongga dadaku dengan udara.
aku seorang masyarakat yang tertindas, teraniaya, dan terlupa. ibu bapakku telah lama mati, saudaraku telah lama jadi tanah. dan hanya akulah yang tersisa...
saat ini aku merasa jadi manusia paling tidak beruntung.
"kenapa Tuhan menakdirkanku hidup?! aku sungguh tidak sanggup menghadapi segala masalah di dunia ini sendirian." aku mulai menangis, menangis deras. kepalaku jadi sakit. ingusku membuat peningku tambah akut.
aku terduduk di lantai perlahan, memegang lutut. aku tidak habis fikir mengapa tetanggaku begitu serakah. sampai-sampai tanah warisan bapak di rebut dariku. dan saat aku pergi mengadu kepada kepala gampong, aku malah dikasari dan di bentak. bahkan bapakku dikatai pencuri lahan.
"Tidaakkk!! bapakku bukan pencuri lahan, kalianlah pencurinyaaa..!!!" aku menjerit keras, tapi aku malah dikenai sanksi akibat kelancanganku. aku meronta-ronta akibat siksaan yang bertubi-tubi.
aku menangis dalam hati.
setiap malam aku mendoakan agar mereka ditimpa kemalangan dan musibah, kalau bisa cepat mati saja! sungguh aku sangat muak, mereka sering menghinaku saat aku lewat didepan rumah mereka sambil meludah menandakan bahwa aku adalah sampah.
"sampah masyarakat!! bikin sumpek kampung saja, Dasar anak iblis!!!" darahku saat itu mendidih, aku melangkah pasti menuju beranda rumah tetanggaku.
"Kamu bilang apa, haah?!!!" gertakku panas. tetanggaku mendorongku dengan gagang sapu lidi.
"Iiih, Najis!! jangan dekat-dekat! nanti rumah saya tercemar najis.!!" ucapnya sambil mendorongku dengan ujung gagang sapu lidinya. aku menepis ujung gagang sapu lidinya.
"Kamu bisa jaga omongan kamu nggak?!! kalau punya mulut dijaga!! jangan asal bunyi aja!!" bentakku kejam.
akhirnya terjadi adu mulut paling kejam, sehingga membuat gaduh suasana pagi saat itu. hal terakhir yang ku ingat adalah seseorang menjambak rambutku dan menendangku dari belakang sehingga membutaku terjungkal jauh ke depan. tak sampai disitu, ketika kakiku tersandung batu dan kepalaku terantuk, aku pingsan. saat ku dapati diriku mulai siuman, aku masih mendapati diriku tertidur di lokasi pingsanku tempo hari, berarti tidak ada seorang pun yang peduli padaku. dengan berjalan terseok-seok aku kembali ke rumah.
aku ingin sekali menjelaskan dan menanyakan alasan apa yang membuat mereka begitu sangat membenciku, memusuhiku. tapi hanya cibiran dan mulut berbisa yang ku dapat. aku ingin sekali menjerit lantang, "AKU BUKAN SAMPAH MASYARAKAT!!!"

Komentar
Posting Komentar